WidgetBucks - Trend Watch - WidgetBucks.com

Senin, 29 Oktober 2007

DEKLARASI "SIAP MENANG SIANG KALAH" PILGUB KALBAR GAGAL

Pontianak, 28/10 (ANTARA) - Ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kalimantan Barat, Aida Mochtar, kecewa acara "Launching Pilgub Damai" dan penandatanganan deklarasi "Siap Menang Siap Kalah" oleh pasangan calon gubernur 2008-2013 gagal dilaksanakan karena dua pasangan calon tidak menghadiri acara tersebut, Minggu.

Dua pasangan calon tidak hadir, HM Akil Mochtar - AR Mecer dan Cornelis - Christiandy Sanjaya. Sementara dua pasang calon lainnya, H Usman Ja'far(gubernur sekarang) - Laurentius Herman Kadir dan Oesman Sapta Odang - Ignatius Lyong, akhirnya memutuskan meninggalkan tempat acara, Gedung Olahraga Pangsuma Pontianak, sebelum acara tersebut sempat dibuka.

Ketua KPUD Kalbar, Aida Mochtar, mengatakan, pihaknya tidak bisa melarang keputusan adanya pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang meninggalkan tempat acara "Launching Pilgub Damai" karena kecewa tidak lengkapnya pasangan calon gubernur yang hadir.

Namun ia mengatakan, acara tersebut sangat bermanfaat untuk menciptakan pemilihan gubenur mendatang berjalan dengan aman dan damai tanpa harus mengorbankan masyarakat kecil untuk satu tujuan yaitu menang.

"Sebenarnya kita telah menyusun acara, dimana setiap calon pasangan akan menyampaikan komitmen menciptakan kondisi pemilihan yang aman dan damai. Dan komitmen itu akan didengarkan oleh masyarakat. Selain itu para pasangan calon juga akan mendengar harapan dari masyarakat itu sendiri ketika terpilih dalam Pilgub mendatang," kata Aida Mochtar.

Ketua KPUD itu juga menyatakan penyesalannya mengenai ketidakhadiran dua pasangan calon yang tidak memberikan konfirmasi.

"Padahal KPUD telah melakukan 'tehnical meeting' dengan tim kampanye dari pasangan calon dan meminta ketegasan mereka untuk hadir dalam deklarasi. Pada waktu itu mereka menyatakan siap hadir," katanya.

Mengenai kegiatan yang berakhir tanpa kesepakatan bersama dan deklarasi "Siap Menang Siap Kalbar" itu, Aida Mochtar menyatakan KPU menganggarkan sekitar Rp100 juta, melibatkan sekitar 1000 orang.

Aida Mochtar menambahkan selaku penyelenggara pemilihan gubenur, pihaknya merasa kurang dihargai karena ketidakhadiran para calon tanpa konfirmasi.

"Hari ini pasangan calon kita harapkan bisa menyampaikan kepada masyarakat bahwa mereka mempunyai komitmen yang sama untuk sebuah pilgub yang damai. Komitmen yang sama dan disaksikan masyarakat untuk bisa menerima kekalahan dan kemenangan. Namun yang penting dari itu, mereka bisa mendengar harapan perwakilan dari elemen masyarakat yang sengaja kita undang," katanya.

Bukan pelanggaran
Aida Mochtar menampik pendapat yang menyatakan pertemuan yang digelar KPUD Kabar sebelum masuk jadwal kampanye 29 Oktober itu, merupakan pelanggaran kampanye. Karena acara tersebut diadakan oleh KPU yang memang bertugas sebagai penyelenggara pemilihan gubernur.

"Kegiatan ini adalah program sosialisasi yang sudah direncanakan oleh KPU. Jadi pertemuan ini bukan kampanye. Yang dikenakan aturan kampanye itu pasangan calon," katanya.

Begitu pula dengan rencana akan adanya pawai keliling seusai acara tersebut, tidak bisa dimasukkan dalam kampanye, karena dilaksanakan oleh KPUD Kalbar.

"Karena tujuan diadakan sosialisasi Pilgub damai adalah agar para calon pasangan bisa memahami bagaimana kampanye yang benar agar tidak rusuh, karena empat pasangan itu berbeda-beda karakternya," katanya.

Sementara sebelumnya, salah satu calon gubernur, H Usman Ja'far menyatakan terpaksa meninggalkan tempat acara karena kecewa karena tidak lengkapnya pasangan calon tersebut.

Seorang calon wakil gubernur, Ignatius Lyong menyatakan, tidak lengkapnya pasangan calon menandakan ketidaksediaan para calon untuk membuat kesepakatan damai.

"Ini artinya tidak mau pilkada damai," katanya, sambil bergegas memasuki kendaraan pribadinya.

Sementara itu, salah satu calon lainnya, Oesman Sapta Odang, mengatakan, gagalnya acara tersebut akibat ketidaktegasan dari KPUD Kalbar dan Panwaslu, semestinya semua pasangan bisa hadir tidak hanya dua.

"Sikap saya sendiri, tetap patuh pada aturan yang telah ditentukan oleh KPUD Kalbar untuk hadir dalam acara. Tetapi ketika acara sudah dimulai dua pasangan lain tidak hadir maka saya harus mempunyai sikap, tidak ikut hadir karena kecewa pasangan lain tidak hadir," kata Oesman Sapta Odang.

Kampanye pemilihan gubernur Kalbar dimulai 29 Oktober dan berakhir pada 11 November. Sementara proses pemilihan langsung dengan empat pasangan calon yang akan dipilih sekitar 2,9 juta pemilih, berlangsung pada 15 November. (K-AL/

Tidak ada komentar: