WidgetBucks - Trend Watch - WidgetBucks.com

Jumat, 28 September 2007

Calon Kepala Daerah Kalbar Antisentimen Etnis


Media Indonesia online
Penulis: Arismunandar

PONTIANAK--MEDIA: Seluruh pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Kalimantan Barat berkomitmen tidak mengeksploitasi persoalan etnis dan perbedaan agama dalam upaya meraih dukungan pemilih.

Selain itu, tidak menggunakan yel-yel atau slogan yang memicu munculnya fanatisme sempit karena dapat

menimbulkan konflik antaretnis dan agama.

Komitmen itu tertuang dalam kesepakatan bersama

antara calon gubernur dan wakil gubernur serta tim kampanye dan pimpinan partai politik, di Pontianak, Jumat (28/9). Kesepakatan yang diprakarsai Kepolisian Daerah (Polda) Kalbar tersebut bertujuan mewujudkan penyelenggaraan pilkada yang aman dan damai. Sebelumnya, kesepakatan serupa antartim kampanye calon gubernur dan wakil gubernur Kalbar se-Kota dan Kabupaten Pontianak telah dilakukan pada awal September lalu.

Kepala Polda Kalbar Brigjen Zainal Abidin Ishak mengatakan suhu politik di Kalbar menjelang kampanye pilkada pada 29 Oktober mendatang semakin menghangat. Hal ini ditandai munculnya selebaran gelap berisikan sentimen terhadap agama dan etnis tertentu, yang berpotensi memecah belah rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Pasalnya, Kalbar termasuk daerah yang rentan terhadap konflik etnis.

“Berdasarkan catatan di kepolisian, sejak 1952 hingga 2000 terdapat 16 kali konflik horizontal di Kalbar. Dampak dari konflik itu hingga kini masih dirasakan oleh sebagian masyarakat karena menimbulkan luka psikologis yang sulit disembuhkan,” kata Zainal.

Untuk menghindari konflik tersebut, Zainal berharap tim kampanye dapat menjunjung tinggi etika dan mengemas materi kampanye sehingga tidak memicu konflik di masyarakat.

“Isi kesepakatan (memang) bersifat normatif tetapi mengikat semua pihak yang terlibat dalam pilkada. Mulai dari penyelenggara dan pengawas hingga masyarakat,” tukasnya.

Sementara itu, Ketua KPU Kalbar Aida Mokhtar menambahkan konflik dalam pilkada kini bukan lagi hanya sebuah potensi, tetapi telah terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Karena itu, harus ada kesadaran kuat dari semua lapisan masyarakat Kalbar untuk tidak terpancing dengan isu etnis dan agama yang dapat menghancurkan kehidupan demokrasi.

“Daerah kita memang pernah mengalami konflik etnis. Namun kini mari tunjukan bahwa kita masih masih bisa berdamai dalam keberagaman yang kita miliki,” katanya. (AR/OL-1)

Tidak ada komentar: